"Engkau yang merindukan belahan jiwa,
resapilah ini, bahwa …
Tuhan menyandingkan jiwa-jiwa di dunia
dalam tingkat kebaikan yang setara,
dan dalam jenjang yang naik.
Bukan kekayaan harta yang meninggikan,
tapi ketaatan kepada yang ditetapkanNya.
Bukan kemiskinan yang merendahkan,
tapi hati yang menistai kebaikannya sendiri.
Sesungguhnya,
hanya engkau yang mengindahkan hati dan dirimu,
yang akan sesuai dengan belahan jiwa
yang indah cinta dan kesetiaannya kepadamu.
Maka bisikkanlah,
Wahai Yang Maha Cinta,
sandingkanlah aku dengan jiwa pilihanMu.
Aamiin
———————-
Mario Teguh - Loving you all as always
Kamis, 24 Mei 2012
Minggu, 20 Mei 2012
Ketika Derita Mengabadikan Cinta
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
(Sumber: http://lenijuwita.wordpress.com)
“Kini tiba saatnya kita
semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan
disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri.
Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Direktur Rumah Sakit Qashrul
Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain
adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. …”
Suara pembawa acara
walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan
mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh
hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan
pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan
ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf
dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian,
seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium.
Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya
yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot.
Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas.
Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke
arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang
kacamatanya, lalu…
Bismillah,
alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du.
Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali
ini perkenankan saya bercerita…
Cerita yang hendak saya
sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi
sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya
kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua
dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan
pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah
nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa
cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati
yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Selengkapnya silahkan dibaca di: http://lenijuwita.wordpress.com/2006/11/12/ketika-derita-mengabadikan-cinta/
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana
Penulis : Inayati
Aku
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret
2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga
kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan
masalah tersebut. Baiklah, aku maklum.
Persoalan saat itu memang lumayan
pelik.
Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi.
Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku
menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak
apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi
ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen
rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin
mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik
napas panjang.
’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak
ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah
muda seperti yanHeran,
apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku
mendengus kesal. Aag sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan
aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan
kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa
mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku
cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian
dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi,
masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah
mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal
titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan.
Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun
perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa
kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang
sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk
di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam
keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah,
beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
agai hal menyenangkan.Sebenarnya,
hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin
berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berb
Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali
baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen,
kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku
heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis
yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya
bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja,
kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum
saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.
”Kamu
kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku
sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi,
apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik.
Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu
pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti
layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi,
semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu
yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya
dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk
memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk
bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu.
Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.
Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku
saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa
Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa
basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia
selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau
awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku
berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah
Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi
terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan
hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak
orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku
terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu
keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa.
Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan
istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya
perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku
membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya,
selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir
tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku
dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin
beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan?
Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di
kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya
yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen,
kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan
yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.
Aku
memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku
kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk
Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian
tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan
waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari
agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya
dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini.
Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia
bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya?
Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku
segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah
dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan
malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan
rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima
smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku
terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding,
jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di
sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’
tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.
Selasa, 13 Maret 2012
Kalau Jodoh Tak Ke Mana
Hari ini genaplah usiaku 24 tahun iaitu pada 30hb November 2003.
Tapi hatiku rasa tidak keruan, puasku berfikir kenapa agaknya. Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah berperasaan begini. Lagi membuatkan aku rasa kecewa ialah pada saat-saat hari gembiraku ini orang yang paling kusayangi sudah melupai tarikh ulangtahunku.
Puas sudah kumenunggu panggilan darinya. hingga membuatkan aku
tertanya-tanya kenapa dia tidak mahu menelefonku. Aku bukannya
mengharapkan apa -apa cuma sekadar ucapan darinya. Itupun sudah cukup
memadai bagiku. Memang aku akui aku dan dia memang jarang bertemu kerana
aku di K.L manakala dia pula di Pantai timur. Jarak antara K.L dan
Kelantan membataskan pertemuan kami tetapi itu tidak menghalang
percintaan kami. Malah ikatan kasih sayang itu semakin bertambah dan
sentiasa dibajai dengan perasan dimiliki dan ingin dimiliki.Tapi hatiku rasa tidak keruan, puasku berfikir kenapa agaknya. Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah berperasaan begini. Lagi membuatkan aku rasa kecewa ialah pada saat-saat hari gembiraku ini orang yang paling kusayangi sudah melupai tarikh ulangtahunku.
Sedang aku termanggu sendirian, tiba – tiba aku dikejutkan dengan
deringan telefon. Alangkah gembiranya hatiku apabila mendengar suaranya
ditelefon. Kurasakan penantianku berhasil. Jika dia berada didepanku
ingin aku mendakapnya sebagai tanda terima kasihku. Tetapi suara hatiku
berkata kenapa baru sekarang dia hendak menelefonku.Argh… persetankanlah
dengan semua ini. Asalkan dia sudah menelefon itu sudah mencukupi.
Tetapi segala apa yang kuangankan umpama kaca terhempas ke batu. Bukan
ucapan ‘selamat hari lahir’ yang terungkap di bibir mungilnya tetapi dia
hanya menyatakan bahawa dia tidak dapat meneruskan perhubungan kami
lagi. Dan dia mendoakan agar aku tabah menghadapi hari-hari yang
mendatang. Ya Allah ujian apakah ni. Begitu mudah sekali dia
memutuskannya. Tidakkah dia tahu yang aku benar-benar menyintainya.
Hampir 4 tahun usia percintaan yang kami bina dan dia dengan mudah
sekali melafazkan kata perpisahan. Sedangkan selama ini dia tahu aku
bertungkus lumus berusaha mengumpulkan uwang.
Ini semata-mata kulakukan
untuk menyuntingnya suatu hari nanti.
Puasku memujuknya agar memberitahuku apakah kesalahan yang telah
kulakukan sampaikan dia sanggup berbuat demikian. Akhirnya dengan rasa
sebak dan terharu dia menyatakan bahawa dia terpaksa mengikut kehendak
kedua orang tua dan keluarganya. Dimana dia akan dijodohkan dengan ahli
saudara terdekatnya.
Bagaikan gelap kurasakan duniaku ini. Tambah pilu hati ini lagi
apabila aku mendengar suaranya yang tidak henti-henti menangis . Kalau
diikutkan hati mahu sahaja aku ke Kelantan untuk menemuinya. Tetapi
apakan dayaku.
Aku benar-benar bingung ketika itu dan tidak tahu kepada siapakah
untuk aku meluahkan perasaan yang berserabut ini. Ingin sahaja aku
curahkan segala rasa hatiku kepada kedua ibubapaku, tetapi aku tidak
sampai hati kerana selama ini mereka berharap agar aku dan dia akan
bersatu. Di saat-saat ini barulah aku terfikir alangkah baiknya
sekiranya aku mempunyai seorang kakak. Bolehlah aku meminta
pandangannya. Hanya insan yang bernama wanita jualah yang lebih mudah
memahami soal hati dan yang melibatkan perasaan kerana jiwa wanita ini
amat halus dan penuh perasaan sentimental.
Hari-hari yang kulalui terasa kosong, hambar dan hilang serinya.
Begitu jualah yang jelas kelihatan pada raut wajahku. Selama ini aku
memang diketegorikan sebagai seorang yang terkenal dengan sikap periang.
Tetapi semenjak kebelakangan ini aku mula bertukar watak malah sering
bermurung. Bagiku sudah tidak ada makna lagi. Semenjak peristiwa itu aku
telah berazam tidak mahu melibatkan diri lagi dalam soal percintaan.
Hatiku telah tertutup rapat untuk mana-mana wanita. Aku sendiri pun
tidak pasti sampai bilakah ianya akan terubat. Aku juga tidak mahu orang
lain menyedari akan perubahan yang berlaku ke atas diriku. Segala susah
payah biarlah ku sendiri yang menanggungnya. Bak kata pujanga “Berat
mata memandang berat lagi bahuku yang memikulnya.
Ku ingatkan aku boleh bertahan tapi rupanya aku masih belum kuat lagi
untuk menerima ini semua. Ku buangkan segala perasaan maluku, pernah ku
menangis di hadapan 2 0rang sahabatku. Mereka jua pernah mengatakan
yang mereka tidak sampai hati melihat keaadan aku dan takut ianya akan
menjejaskan kerjayaku. Malah mereka berdualah yang banyak memberi ku
perangsang dan semangat untuk aku terus bangun dari diselimuti oleh
perasaan gundah gulana sepanjang masa. Terima kasih kalian berdua “kak
jujie dan Kak shiba”.
Berkat sokongan dan dorongan dari mereka aku telah membulat tekad
bahawa aku akan cuba sedaya upayaku untuk memilikinya. Bak kata pepatah
“alang-alang menyeluk pekasam biar sampai ke pangkal lengan”.
Berbekalkan semangat inilah aku meminta kedua ibu bapaku masuk meminang
si dia. Walaupun aku sedia maklum bahawa sidia bakal dijodohkan dengan
orang lain. Tetapi kurasakan yang aku masih lagi mempunyai peluang.
Sedangkan orang yang sudah berkahwin pun boleh bercerai. Inikan pula si
dia yang baru hendak dijodohkan dengan orang lain. Bak kata orang ” the
best man win”.
Pada mulanya kedua ibu bapaku enggan menurut kehendakku tetapi
disebabkan aku beria-ia akhirnya mereka mengalah. Terima kasih buat emak
dan ayah. Setelah mencapai kata putus. Ibu bapaku berbincang dengan
kedua ibu bapa si dia mengenai hasrat hatiku. Walaupun hanya berbicara
melalui telefon, akhirnya mereka bersetuju untuk menerima aku sebagai
sebahagian daripada keluarganya.
Akhirnya, setelah pelbagai dugaan telah kuharungi. Aku dan keluargaku
berangkat ke Kelantan menghantar rombongan meminang. Ku panjatkan
syukur ke hadrat Ilahi, pada tanggal 17/3/2004 cincin pertunanganku
telah selamat disarungkan dijari manisnya. Bahagianya kurasakan disaat
itu. Aku berjanji dengan orang tuanya bahawa aku akan menjaga anaknya
dengan baik serta akan menjadi seorang suami dan ayah yang baik kepada
cucu-cucunya kelak. Insyaalah.
Kepada pembaca, jadikanlah kisahku ini sebagai satu ikhtibar. Sekiranya kita sayangkan seseorang cepatlah bertindak. Jangan tunggu sampai sesuatu perkara yang tidak diingini berlaku, barulah kita akan menyesal.
Nukilan : Insan Sepi
say love""
Aku tidak dapat menyentuhmu
Tapi aku bisa menggenggammu
Tidak masalah dimanapun kamu berada
Kamu ada disini, di hatiku
Kemanapun aku pergi
Tapi aku bisa menggenggammu
Tidak masalah dimanapun kamu berada
Kamu ada disini, di hatiku
Kemanapun aku pergi
Aku berharap semua jarak diantara kita
Secepatnya menghilang
Karena semua yang aku inginkan
Adalah hidup bersamamu
Aku memandangi bunga mawar, Begitu indah mawar diciptakan
Kemudian aku memandangmu
Dan terus memandangmu
Keindahan bunga mawar tidak seberapa jika dibandingkan, kecantikanmu
Kemudian aku memandangmu
Dan terus memandangmu
Keindahan bunga mawar tidak seberapa jika dibandingkan, kecantikanmu
Pertama kali aku melihatmu, aku takut menyentuhmu
Pertama kali aku menyentuhmu, aku takut ingin menciummu
Pertama kali aku menciummu, aku takut akan jatuh cinta padamu
Dan saat ini. Saat aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu
Pertama kali aku menyentuhmu, aku takut ingin menciummu
Pertama kali aku menciummu, aku takut akan jatuh cinta padamu
Dan saat ini. Saat aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu
Biarlah semua senyumku menjadi milikmu
Dan semua air matamu, menjadi milikku
Biarlah semua kebahagiaanku menjadi milikmu
Dan semua kesedihanmu menjadi milikku
Biarlah seluruh dunia menjadi milikmu
Aku hanya meminta satu, yaitu kamu menjadi milikku
Dan semua air matamu, menjadi milikku
Biarlah semua kebahagiaanku menjadi milikmu
Dan semua kesedihanmu menjadi milikku
Biarlah seluruh dunia menjadi milikmu
Aku hanya meminta satu, yaitu kamu menjadi milikku
Jika ada 10 orang yang menyayangimu, salah satunya pasti aku
Jika ada 1 orang menjagamu, itu juga aku
Jika tidak ada orang yang menyayangimu dan menjagamu, aku pasti sudah tidak ada didunia ini
Jika ada 1 orang menjagamu, itu juga aku
Jika tidak ada orang yang menyayangimu dan menjagamu, aku pasti sudah tidak ada didunia ini
Pada saat hujan, kamu tidak dapat melihat matahari, tapi sebenarnya matahari masih ada disana
Aku berharap kita seperti itu
Kita tidak selalu bisa saling melihat setiap saat
Tetapi kita selalu ada disini untuk selalu bersama
Aku berharap kita seperti itu
Kita tidak selalu bisa saling melihat setiap saat
Tetapi kita selalu ada disini untuk selalu bersama
Sebuah lilin bisa meleleh
Dan api bisa padam
Tetapi cinta yang kamu berikan untukku
Akan selalu menyala di hatiku
Minggu, 11 Maret 2012
SISTEM EFI

SISTEM EFI
URAIAN
Sistem efi menentukan jumlah bahan baker yang optimal ( tepat ) disesuaikan dengan jumlah bahan bakar dan temperatur udara yang masuk , kecepatan mesin,temperature air pendingin posisi katup throtel valve,pengembunan oxsigen di dalam exhaust pipe,dan kondiai lainnya.Sistem efi menjamin pencampuran udara dan bahan bakar ideal dan efisien.
MACAM SISTEM EFI
Sistem D-EFI ( Manifold Pressure Control Type )
D-EFI mengukur tekanan dalam intake manifold dan menghitung jumlah udara yang masuk .Tetapi tekanan udara dan jumlah udara tidak dalam konvesi yang tapat ,sehingga masih belum akurat disbanding dengan L-EFI.
Sistem L-EFI ( Airflow Control Type )
Dalam L-EFI, airflow meter langsung mengukur jumlah udara yang masuk ke intake manifold dan bias mengukur jumlah udara dengan akurat serta dapat mengontrol penginjeksian bahan bakar lebih tapat disbanding dengan D-EFI.
SUSUNAN DASAR SISTEM EFI
Sistem efi dibagi jadi 3 sistem : system bahan bakar , system induksi udara ,system pengontrol elektronik.
SISTEM BAHAN BAKAR
Bahan bakar dihisab oleh pompa ke saringan kemudian di kirim ke injector dan colt start injector.Tekanan di fuel line di control pressure regulator dan kelebihan bahan bakar di kembalikan ke tangki.Bahan bakar di injeksikan ke intake manifold sesuai injection signal dan colt start injector menginjeksikan bahan bakar ke intake chamber langsung saat cuaca dingin sehingga mesin bias hidup.
SISTEM INDUKSI UDARA ( AIR INDUCTION SYSTEM )
Bila mesin dingin air valve mengalirkan udara ke intake chamber langsung dengan membypass throtel.Air valve mangalirkan udara secukupnya ke intake chamber untuk menambah putaran fast idle,tanpa memperhatikan throtel terbuka atau tertutup .Jumlah udara yang masuk di deteksik oleh air flow meter ( L-EFI ) atau manifold pressure sensor ( D-EFI ).
SISTEM PENGONTROL ELEKTRONIK ( ELECTRONIC CONTROL SYSTEM )
Sistem control elektronik ( electronic control system ) ,termasuk sensor dan computer untuk menentukan ketepatan jumlah penginjeksian bahan bakar sesuai signal yang diterima dari sensor.Sensor ini untuk mengukur jumlah bahan bakar yang di hisab, beban mesin,temperature air pendingin,temperature udara ,saat akselerasi .Komputer mengukur jumlah yang tepat dan ideal agar menghasilkan tenaga yang maksimal .
BILA ADA KESAMAAN GAMBAR SAYA MINTA MAAF !
Langganan:
Postingan (Atom)