Kamis, 24 Mei 2012

"Engkau yang merindukan belahan jiwa,
resapilah ini, bahwa …

Tuhan menyandingkan jiwa-jiwa di dunia
dalam tingkat kebaikan yang setara,
dan dalam jenjang yang naik.

Bukan kekayaan harta yang meninggikan,
tapi ketaatan kepada yang ditetapkanNya.

Bukan kemiskinan yang merendahkan,
tapi hati yang menistai kebaikannya sendiri.

Sesungguhnya,
hanya engkau yang mengindahkan hati dan dirimu,
yang akan sesuai dengan belahan jiwa
yang indah cinta dan kesetiaannya kepadamu.

Maka bisikkanlah,

Wahai Yang Maha Cinta,
sandingkanlah aku dengan jiwa pilihanMu.

Aamiin

———————-

Mario Teguh - Loving you all as always

Minggu, 20 Mei 2012

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Penulis : Habiburrahman El Shirazy
(Sumber: http://lenijuwita.wordpress.com)



“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri. Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. …”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Selengkapnya silahkan dibaca di: http://lenijuwita.wordpress.com/2006/11/12/ketika-derita-mengabadikan-cinta/

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

Penulis : Inayati


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. 

Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yanHeran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aag sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

agai hal menyenangkan.Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berb Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.


Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002

Selasa, 13 Maret 2012

Kalau Jodoh Tak Ke Mana

 


Hari ini genaplah usiaku 24 tahun iaitu pada 30hb November 2003.
Tapi hatiku rasa tidak keruan, puasku berfikir kenapa agaknya. Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah berperasaan begini. Lagi membuatkan aku rasa kecewa ialah pada saat-saat hari gembiraku ini orang yang paling kusayangi sudah melupai tarikh ulangtahunku.
Puas sudah kumenunggu panggilan darinya. hingga membuatkan aku tertanya-tanya kenapa dia tidak mahu menelefonku. Aku bukannya mengharapkan apa -apa cuma sekadar ucapan darinya. Itupun sudah cukup memadai bagiku. Memang aku akui aku dan dia memang jarang bertemu kerana aku di K.L manakala dia pula di Pantai timur. Jarak antara K.L dan Kelantan membataskan pertemuan kami tetapi itu tidak menghalang percintaan kami. Malah ikatan kasih sayang itu semakin bertambah dan sentiasa dibajai dengan perasan dimiliki dan ingin dimiliki.

Sedang aku termanggu sendirian, tiba – tiba aku dikejutkan dengan deringan telefon. Alangkah gembiranya hatiku apabila mendengar suaranya ditelefon.  Kurasakan penantianku berhasil. Jika dia berada didepanku ingin aku mendakapnya sebagai tanda terima kasihku. Tetapi suara hatiku berkata kenapa baru sekarang dia hendak menelefonku.Argh… persetankanlah dengan semua ini. Asalkan dia sudah menelefon itu sudah mencukupi. Tetapi segala apa yang kuangankan umpama kaca terhempas ke batu.  Bukan ucapan ‘selamat hari lahir’ yang terungkap di bibir mungilnya tetapi dia hanya menyatakan bahawa dia tidak dapat meneruskan perhubungan kami lagi. Dan dia mendoakan agar aku tabah menghadapi hari-hari yang mendatang. Ya Allah ujian apakah ni. Begitu mudah sekali dia memutuskannya. Tidakkah dia tahu yang aku benar-benar menyintainya. Hampir 4 tahun usia percintaan yang kami bina dan dia dengan mudah sekali melafazkan kata perpisahan. Sedangkan selama ini dia tahu aku bertungkus lumus berusaha mengumpulkan uwang.
 Ini semata-mata kulakukan untuk menyuntingnya suatu hari nanti.
Puasku memujuknya agar memberitahuku apakah kesalahan yang telah kulakukan sampaikan dia sanggup berbuat demikian. Akhirnya dengan rasa sebak dan terharu dia menyatakan bahawa dia terpaksa mengikut kehendak kedua orang tua dan keluarganya. Dimana dia akan dijodohkan dengan ahli saudara terdekatnya.
Bagaikan gelap kurasakan duniaku ini. Tambah pilu hati ini lagi apabila aku mendengar suaranya yang tidak henti-henti menangis . Kalau diikutkan hati mahu sahaja aku ke Kelantan untuk menemuinya. Tetapi apakan dayaku.

Aku benar-benar bingung ketika itu dan tidak tahu kepada siapakah untuk aku meluahkan perasaan yang berserabut ini. Ingin sahaja aku curahkan segala rasa hatiku kepada kedua ibubapaku, tetapi aku tidak sampai hati kerana selama ini mereka berharap agar aku dan dia akan bersatu. Di saat-saat ini barulah aku terfikir alangkah baiknya sekiranya aku mempunyai seorang kakak. Bolehlah aku meminta pandangannya. Hanya insan yang bernama wanita jualah yang lebih mudah memahami soal hati dan yang melibatkan perasaan kerana jiwa wanita ini amat halus dan penuh perasaan sentimental.

Hari-hari yang kulalui terasa kosong, hambar dan hilang serinya. Begitu jualah yang jelas kelihatan pada raut wajahku. Selama ini aku memang diketegorikan sebagai seorang yang terkenal dengan sikap periang. Tetapi semenjak kebelakangan ini aku mula bertukar watak malah sering bermurung. Bagiku sudah tidak ada makna lagi. Semenjak peristiwa itu aku telah berazam tidak mahu melibatkan diri lagi dalam soal percintaan. Hatiku telah tertutup rapat untuk mana-mana wanita. Aku sendiri pun tidak pasti sampai bilakah ianya akan terubat. Aku juga tidak mahu orang lain menyedari akan perubahan yang berlaku ke atas diriku. Segala susah payah biarlah ku sendiri yang menanggungnya. Bak kata pujanga “Berat mata memandang berat lagi bahuku yang memikulnya.

Ku ingatkan aku boleh bertahan tapi rupanya aku masih belum kuat lagi untuk menerima ini semua. Ku buangkan segala perasaan maluku, pernah ku menangis di hadapan 2 0rang sahabatku. Mereka jua pernah mengatakan yang mereka tidak sampai hati melihat keaadan aku dan takut ianya akan menjejaskan kerjayaku. Malah mereka berdualah yang banyak memberi ku perangsang dan semangat untuk aku terus bangun dari diselimuti oleh perasaan gundah gulana sepanjang masa. Terima kasih kalian berdua “kak jujie dan Kak shiba”.
Berkat sokongan dan dorongan dari mereka aku telah membulat tekad bahawa aku akan cuba sedaya upayaku untuk memilikinya. Bak kata pepatah “alang-alang menyeluk pekasam biar sampai ke pangkal lengan”. Berbekalkan semangat inilah aku meminta kedua ibu bapaku masuk meminang si dia. Walaupun aku sedia maklum bahawa sidia bakal dijodohkan dengan orang lain. Tetapi kurasakan yang aku masih lagi mempunyai peluang. Sedangkan orang yang sudah berkahwin pun boleh bercerai. Inikan pula si dia yang baru hendak dijodohkan dengan orang lain. Bak kata orang ” the best man win”.

Pada mulanya kedua ibu bapaku enggan menurut kehendakku tetapi disebabkan aku beria-ia akhirnya mereka mengalah. Terima kasih buat emak dan ayah. Setelah mencapai kata putus. Ibu bapaku berbincang dengan kedua ibu bapa si dia mengenai hasrat hatiku. Walaupun hanya berbicara melalui telefon, akhirnya mereka bersetuju untuk menerima aku sebagai sebahagian daripada keluarganya.

Akhirnya, setelah pelbagai dugaan telah kuharungi. Aku dan keluargaku berangkat ke Kelantan menghantar rombongan meminang. Ku panjatkan syukur ke hadrat Ilahi, pada tanggal 17/3/2004 cincin pertunanganku telah selamat disarungkan dijari manisnya. Bahagianya kurasakan disaat itu. Aku berjanji dengan orang tuanya bahawa aku akan menjaga anaknya dengan baik serta akan menjadi seorang suami dan ayah yang baik kepada cucu-cucunya kelak. Insyaalah.

Aku bersyukur pada yang Esa kerana telah memakbulkan doaku selama ini. aku juga berharap agar perhubungan ini akan terus berkekalan hingga ke akhir hayat. Walau sebesar mana pun gelombang yang melanda aku berjanji akan cuba untuk menempuhinya. Aku akan pastikan orang yang aku sayangi akan sentiasa berada disisi.
Kepada pembaca, jadikanlah kisahku ini sebagai satu ikhtibar. Sekiranya kita sayangkan seseorang cepatlah bertindak. Jangan tunggu sampai sesuatu perkara yang tidak diingini berlaku, barulah kita akan menyesal.

Nukilan : Insan Sepi
 say love""



Aku tidak dapat menyentuhmu
Tapi aku bisa menggenggammu
Tidak masalah dimanapun kamu berada
Kamu ada disini, di hatiku
Kemanapun aku pergi

Aku berharap semua jarak diantara kita
Secepatnya menghilang
Karena semua yang aku inginkan
Adalah hidup bersamamu

Aku memandangi bunga mawar, Begitu indah mawar diciptakan
Kemudian aku memandangmu
Dan terus memandangmu
Keindahan bunga mawar tidak seberapa jika dibandingkan, kecantikanmu

Pertama kali aku melihatmu, aku takut menyentuhmu
Pertama kali aku menyentuhmu, aku takut ingin menciummu
Pertama kali aku menciummu, aku takut akan jatuh cinta padamu
Dan saat ini. Saat aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu

Biarlah semua senyumku menjadi milikmu
Dan semua air matamu, menjadi milikku
Biarlah semua kebahagiaanku menjadi milikmu
Dan semua kesedihanmu menjadi milikku
Biarlah seluruh dunia menjadi milikmu
Aku hanya meminta satu, yaitu kamu menjadi milikku

Jika ada 10 orang yang menyayangimu, salah satunya pasti aku
Jika ada 1 orang menjagamu, itu juga aku
Jika tidak ada orang yang menyayangimu dan menjagamu, aku pasti sudah tidak ada didunia ini

Pada saat hujan, kamu tidak dapat melihat matahari, tapi sebenarnya matahari masih ada disana
Aku berharap kita seperti itu
Kita tidak selalu bisa saling melihat setiap saat
Tetapi kita selalu ada disini untuk selalu bersama


Sebuah lilin bisa meleleh
Dan api bisa padam
Tetapi cinta yang kamu berikan untukku
Akan selalu menyala di hatiku

Minggu, 11 Maret 2012



SISTEM EFI


SISTEM EFI

URAIAN
Sistem efi menentukan jumlah bahan baker yang optimal ( tepat ) disesuaikan dengan jumlah bahan bakar dan temperatur udara yang masuk , kecepatan mesin,temperature air pendingin posisi katup throtel valve,pengembunan oxsigen di dalam exhaust pipe,dan kondiai lainnya.Sistem efi menjamin pencampuran udara dan bahan bakar ideal dan efisien.

MACAM SISTEM EFI

Sistem D-EFI ( Manifold Pressure Control Type )

D-EFI mengukur tekanan dalam intake manifold dan menghitung jumlah udara yang masuk .Tetapi tekanan udara dan jumlah udara tidak dalam konvesi yang tapat ,sehingga masih belum akurat disbanding dengan L-EFI.
Sistem L-EFI ( Airflow Control Type )

Dalam L-EFI, airflow meter langsung mengukur jumlah udara yang masuk ke intake manifold dan bias mengukur jumlah udara dengan akurat serta dapat mengontrol penginjeksian bahan bakar lebih tapat disbanding dengan D-EFI.

SUSUNAN DASAR SISTEM EFI

Sistem efi dibagi jadi 3 sistem : system bahan bakar , system induksi udara ,system pengontrol elektronik.
SISTEM BAHAN BAKAR
Bahan bakar dihisab oleh pompa ke saringan kemudian di kirim ke injector dan colt start injector.Tekanan di fuel line di control pressure regulator dan kelebihan bahan bakar di kembalikan ke tangki.Bahan bakar di injeksikan ke intake manifold sesuai injection signal dan colt start injector menginjeksikan bahan bakar ke intake chamber langsung saat cuaca dingin sehingga mesin bias hidup.
SISTEM INDUKSI UDARA ( AIR INDUCTION SYSTEM )
Bila mesin dingin air valve mengalirkan udara ke intake chamber langsung dengan membypass throtel.Air valve mangalirkan udara secukupnya ke intake chamber untuk menambah putaran fast idle,tanpa memperhatikan throtel terbuka atau tertutup .Jumlah udara yang masuk di deteksik oleh air flow meter ( L-EFI ) atau manifold pressure sensor ( D-EFI ).
SISTEM PENGONTROL ELEKTRONIK ( ELECTRONIC CONTROL SYSTEM )
Sistem control elektronik ( electronic control system ) ,termasuk sensor dan computer untuk menentukan ketepatan jumlah penginjeksian bahan bakar sesuai signal yang diterima dari sensor.Sensor ini untuk mengukur jumlah bahan bakar yang di hisab, beban mesin,temperature air pendingin,temperature udara ,saat akselerasi .Komputer mengukur jumlah yang tepat dan ideal agar menghasilkan tenaga yang maksimal .


BILA ADA KESAMAAN GAMBAR SAYA MINTA MAAF !